Perguruan Tinggi

Konjen Malaysia di Unila: Indonesia Bukan Saingan, tapi Mitra Strategis

×

Konjen Malaysia di Unila: Indonesia Bukan Saingan, tapi Mitra Strategis

Sebarkan artikel ini

MATAMATA.ID – Hubungan Indonesia dan Malaysia dinilai harus terus diperkuat melalui jalur pendidikan, diplomasi, dan kolaborasi antargenerasi muda. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan “Konjen Goes to Campus” yang digelar Universitas Lampung (Unila), Senin, 11 Mei 2026.

Dalam forum diskusi publik yang berlangsung di Ruang Sidang Rektorat Unila tersebut, Konsul Jenderal Malaysia di Medan, Shahril Nizam Abdul Malek, hadir sebagai pembicara utama dengan mengangkat tema “Hubungan Bilateral Malaysia–Indonesia: Persamaan yang Menyatu, Perbedaan yang Mengikat”.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unila, Prof. Dr. Ayi Ahadiat, S.E., M.B.A., mengatakan perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam membangun hubungan internasional yang lebih kuat melalui kerja sama akademik dan pertukaran pemikiran.

Menurutnya, kehadiran Konjen Malaysia di lingkungan kampus menjadi kesempatan strategis untuk membuka ruang kolaborasi lebih luas antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam bidang pendidikan tinggi, riset, inovasi, serta mobilitas mahasiswa.

“Kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang membangun dialog dan kerja sama antarbangsa,” ujar Prof. Ayi.

Sementara itu, Shahril Nizam Abdul Malek menegaskan hubungan Malaysia dan Indonesia memiliki fondasi yang sangat kuat karena dibangun atas kedekatan sejarah, budaya, bahasa, dan hubungan sosial masyarakat yang telah terjalin sejak lama.

Ia menyebut hubungan kedua negara tidak semestinya dipandang dalam perspektif persaingan, melainkan kemitraan strategis yang saling menguatkan.

“Indonesia bukan kompetitor bagi Malaysia. Kita adalah mitra strategis yang memiliki banyak kesamaan dan kepentingan bersama,” katanya di hadapan peserta diskusi.

Dalam pemaparannya, Shahril juga menyoroti eratnya hubungan ekonomi kedua negara yang ditandai dengan nilai perdagangan bilateral mencapai lebih dari USD25 miliar per tahun.

Selain itu, tingginya mobilitas masyarakat juga memperlihatkan kuatnya koneksi sosial antara Indonesia dan Malaysia. Pada tahun 2024, tercatat sekitar 3,6 juta warga Indonesia berkunjung ke Malaysia.

Ia menekankan bahwa hubungan bilateral yang sehat tidak berarti tanpa perbedaan. Menurutnya, perbedaan justru harus dikelola melalui komunikasi, dialog, dan diplomasi yang konstruktif.

“Hubungan yang dewasa bukan diukur dari tidak adanya perbedaan, tetapi bagaimana kedua negara mampu mengelola perbedaan tersebut secara bijak,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, Unila dan Konsulat Jenderal Malaysia di Medan berharap kerja sama pendidikan dan hubungan antarmasyarakat kedua negara semakin erat serta mampu melahirkan generasi muda yang berpikiran global dan kolaboratif. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *