MATAMATA.ID – Dinas Perdagangan Kota Bandar Lampung mengimbau para pedagang mulai mengurangi penggunaan plastik dan beralih ke kemasan ramah lingkungan menyusul kenaikan harga yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Bandar Lampung, Erwin, mengatakan lonjakan harga plastik dipengaruhi terganggunya pasokan bahan baku kimia akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Dampaknya dirasakan secara luas, tidak hanya di Bandar Lampung, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia.
“Rata-rata kenaikan harga plastik saat ini mencapai sekitar 50 persen dan terjadi hampir di seluruh daerah,” kata Erwin, Kamis, 9 April 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada pedagang, terutama pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada kantong plastik sebagai kemasan. Kenaikan biaya operasional membuat sebagian pedagang harus menyesuaikan harga jual.
“Kalau biaya naik, pedagang tentu harus menyesuaikan harga agar tetap bisa bertahan,” ujarnya.
Erwin menegaskan, pemerintah daerah tidak dapat mengintervensi harga plastik karena bahan baku produksinya masih bergantung pada impor dari luar negeri.
Sebagai langkah solusi, pihaknya melalui UPT terus melakukan sosialisasi agar pedagang lebih hemat dalam penggunaan plastik, termasuk tidak memberikan kantong secara berlebihan kepada pembeli.
Selain itu, pedagang juga didorong menggunakan alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan, seperti kantong kertas, tas belanja guna ulang, hingga pembungkus berbahan alami seperti daun.
“Ini juga menjadi kesempatan bagi kita semua untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap plastik,” jelasnya.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta ikut berperan dengan membawa tas belanja sendiri saat berbelanja, sehingga penggunaan plastik dapat ditekan.
Erwin menilai, meski kenaikan harga plastik cukup memberatkan, kondisi ini bisa menjadi momentum untuk mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
“Kita harapkan ini menjadi langkah awal untuk mengurangi sampah plastik dan menjaga lingkungan,” pungkasnya. (**)













