MATAMATA.ID – Bagi Hanif, menuju kampus bukan sekadar perjalanan puluhan kilometer dari Lampung Tengah ke Bandar Lampung. Perjalanan itu adalah langkah menuju harapan yang telah lama ia perjuangkan.
Ia sudah pernah mencoba. Saat Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), hasil yang diimpikan belum datang. Bangku kuliah di Universitas Lampung masih terasa jauh dari genggaman.
Namun Hanif tidak berhenti.
Ketika Universitas Lampung (Unila) membuka Seleksi Mandiri melalui Program Masuk Perluasan Akses Pendidikan (PMPAP), ia melihat secercah peluang baru. Program afirmasi tersebut membuka kesempatan bagi putra-putri asli Lampung dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi untuk menempuh pendidikan tinggi tanpa biaya kuliah hingga lulus.
Kesempatan itu terlalu berharga untuk disia-siakan.
Sehari sebelum ujian, Hanif berangkat dari kampung halamannya di Lampung Tengah. Ia memilih menginap di rumah seorang teman di kawasan Kota Baru agar bisa datang lebih awal ke lokasi ujian.
Namun, pagi yang semula dipenuhi harapan berubah menjadi ujian yang sesungguhnya.
Saat hendak mencari sarapan di kawasan Hajimena, motor yang dikendarainya bersenggolan dengan kendaraan lain. Ia terjatuh. Tangan terluka, kopling motor patah, dan bodi kendaraan rusak.
Di tengah situasi itu, hal pertama yang dilakukan Hanif bukan mengeluh, melainkan meminta maaf kepada pengemudi ojek online yang juga ikut terjatuh.
“Syukurnya beliau merespons baik dan hanya mengingatkan supaya lebih berhati-hati,” kenangnya.
Setelah mendapat pertolongan dari temannya, luka di tangannya dibersihkan. Waktu terus berjalan. Pilihan pun hanya dua: menyerah atau tetap berangkat.
Hanif memilih yang kedua.
Ia datang ke lokasi seleksi dengan kondisi yang belum sepenuhnya pulih. Rasa nyeri masih terasa, tetapi tekadnya tidak ikut goyah.
Baginya, kesempatan mengikuti PMPAP adalah kesempatan memperbaiki masa depan.
Ia memilih Program Studi S-1 Bisnis Digital sebagai pilihan pertama dan S-1 Ilmu Komunikasi sebagai pilihan kedua. Dua jurusan yang diyakininya dapat membawanya menuju kehidupan yang lebih baik.
Saat mengerjakan soal, ia berusaha mengesampingkan rasa sakit. Bekal latihan try out yang pernah diikutinya menjadi modal untuk tetap percaya diri menghadapi seleksi.
“Sekarang tinggal maksimalin usaha,” katanya singkat.
Kisah Hanif mungkin tidak akan tercatat sebagai peristiwa besar. Namun, di balik langkah sederhana menuju ruang ujian, tersimpan pelajaran berharga tentang arti ketekunan.
Tidak semua perjuangan dimulai dari ruang yang nyaman. Ada yang harus melewati kegagalan, keterbatasan ekonomi, bahkan musibah yang datang tanpa rencana.
Hanif membuktikan bahwa pendidikan bukan sekadar tentang siapa yang paling pintar. Pendidikan juga milik mereka yang memilih bangkit setiap kali keadaan berusaha menghentikan langkahnya.
Sebelum meninggalkan ruang wawancara, Hanif mengucapkan kalimat yang terdengar sederhana, tetapi sarat makna.
“Tetap semangat saja, apa pun yang terjadi, badai harus tetap dilewati.”
Kalimat itu bukan sekadar motivasi. Ia lahir dari pengalaman seorang anak muda yang baru beberapa jam sebelumnya jatuh di jalan, tetapi memilih kembali berdiri demi mengejar masa depan.
Karena terkadang, jalan menuju mimpi memang tidak pernah benar-benar mulus. Yang menentukan bukan seberapa keras badai menerpa, melainkan seberapa kuat seseorang memutuskan untuk terus melangkah. (**)











