MATAMATA.ID – Universitas Lampung (Unila) menorehkan prestasi baru di bidang pendidikan inklusif. Kampus negeri terbesar di Provinsi Lampung itu berhasil meraih predikat “Baik” dalam penilaian UNS-KND Inclusion Metric 2026, sebuah indikator nasional yang mengukur komitmen perguruan tinggi dalam menyediakan pendidikan yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Penghargaan tersebut diserahkan pada Malam Anugerah Insan Berprestasi yang menjadi puncak peringatan Dies Natalis ke-50 Universitas Sebelas Maret (UNS). Penilaian ini merupakan kolaborasi UNS bersama Komisi Nasional Disabilitas (KND) yang tahun ini diikuti 19 perguruan tinggi di Indonesia.
Rektor Unila, Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng, menyebut capaian tersebut menjadi bukti bahwa upaya membangun kampus yang inklusif telah berjalan ke arah yang positif. Menurutnya, pengembangan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari kualitas akademik, tetapi juga dari kemampuan kampus menjamin setiap mahasiswa memperoleh hak belajar yang sama.
Ia menegaskan Unila akan terus memperkuat berbagai aspek pendukung pendidikan inklusif, mulai dari kebijakan, pelayanan akademik, hingga penyediaan fasilitas yang lebih aksesibel bagi mahasiswa berkebutuhan khusus.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi Unila untuk terus meningkatkan kualitas layanan sehingga seluruh sivitas akademika dapat belajar dan berkembang tanpa hambatan,” ujarnya, Rabu, 29 Juli 2026.
Sementara itu, Rektor UNS Prof. Dr. Ir. Hartono, dr., M.Si, mengatakan Inclusion Metric hadir sebagai instrumen untuk mendorong perguruan tinggi membangun lingkungan pendidikan yang lebih terbuka dan memberikan kesempatan yang setara bagi semua kalangan.
Menurutnya, penghargaan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga memacu perguruan tinggi lain untuk terus memperkuat implementasi pendidikan inklusif di lingkungan kampus.
Dengan raihan predikat “Baik”, Unila memperkuat posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi yang konsisten mendukung agenda nasional dalam menciptakan pendidikan tinggi yang inklusif, berkeadilan, dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. (*)











