Perguruan Tinggi

Bukan Sekadar Cetak Spesialis, Unila Bidik Pemerataan Dokter di Lampung

×

Bukan Sekadar Cetak Spesialis, Unila Bidik Pemerataan Dokter di Lampung

Sebarkan artikel ini

MATAMATA.ID – Persoalan kekurangan dokter spesialis di sejumlah daerah di Lampung coba dijawab Universitas Lampung (Unila) dengan membuka empat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Empat program tersebut resmi diluncurkan Fakultas Kedokteran (FK) Unila di Ruang Sidang Utama Gedung Rektorat Unila, Senin, 10 Agustus 2026. Program itu meliputi Anestesiologi dan Terapi Intensif, Bedah, Penyakit Dalam, serta Ilmu Kesehatan Anak.

Yang membedakan, Unila tidak ingin pendidikan spesialis berhenti pada lahirnya lulusan baru. Dokter yang mengikuti pendidikan dari pengiriman pemerintah kabupaten/kota diharapkan kembali ke daerah setelah menyelesaikan pendidikan.

Dekan FK Unila Dr. dr. Evi Kurniawaty mengatakan skema tersebut penting karena persoalan layanan kesehatan di Lampung masih berkaitan dengan keterbatasan dokter spesialis di sejumlah wilayah.

“Kami berharap dokter-dokter yang dikirim oleh kabupaten-kota nantinya kembali ke daerah masing-masing. Jadi setelah selesai pendidikan, mereka tidak hanya menjadi spesialis, tetapi memang kembali untuk mengisi kebutuhan pelayanan kesehatan di daerahnya,” ujar Evi.

Empat PPDS itu dibuka setelah FK Unila menyelesaikan rangkaian persiapan sejak izin pembukaan program diterbitkan pada Januari 2026.

Dalam waktu sekitar tujuh bulan, FK Unila menyiapkan kurikulum, sumber daya manusia, fasilitas pendidikan, kerja sama dengan fakultas pembina, rumah sakit utama, rumah sakit jejaring hingga proses seleksi peserta didik.

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek menjadi rumah sakit utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Sejumlah rumah sakit jejaring di Lampung turut mendukung proses pendidikan dan pelatihan peserta PPDS.

Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., mengatakan pembukaan PPDS menjadi capaian penting karena perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga memberi kontribusi terhadap persoalan masyarakat.

“Keberhasilan melahirkan program studi ini tentu bukan proses yang singkat. Hampir setiap hari Fakultas Kedokteran bersama tim bekerja menyiapkan penerimaan, sistem, sampai simulasi agar PPDS ini bisa berjalan sesuai harapan,” katanya.

Lusmeilia kembali menekankan pentingnya komitmen peserta PPDS untuk pulang ke daerah asal.

Menurutnya, dokter yang dikirim pemerintah daerah memperoleh pendidikan spesialis dengan harapan nantinya dapat menjadi bagian dari penguatan layanan kesehatan di wilayah masing-masing.

Persoalan distribusi dokter spesialis juga disoroti Wakil Gubernur Lampung dr. Jihan Nurlela, M.M.

Jihan mengatakan Lampung tidak cukup hanya menambah jumlah dokter spesialis. Pemerataan penempatan juga menjadi pekerjaan besar karena tenaga spesialis masih cenderung terkonsentrasi di wilayah perkotaan.

“ Kita tidak hanya bicara bagaimana mencetak dokter spesialis, tetapi juga bagaimana mereka bisa hadir dan bekerja di daerah,” ujarnya.

Menurut Jihan, keberadaan dokter spesialis harus ditopang kesiapan rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Karena itu, pemerintah daerah, perguruan tinggi dan rumah sakit perlu berjalan dalam satu ekosistem.

“Sarana prasarana, keamanan, kenyamanan, dan dukungan rumah sakit juga harus kita siapkan bersama. Ini pekerjaan rumah pemerintah yang harus kita uraikan bersama,” katanya.

Empat PPDS tersebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem pendidikan dan kesehatan Unila. FK Unila sebelumnya meraih akreditasi unggul dan akreditasi internasional pada 2025.

Pengembangan itu juga disiapkan melalui pembangunan Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) Unila dan Integrated Research Center yang diarahkan mendukung pendidikan, penelitian serta pelayanan kesehatan. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *