MATAMATA.ID – Universitas Lampung (Unila) memperkuat langkah menuju kampus berkelanjutan setelah mendapat dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank Lampung. Bantuan tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sampah terpadu, termasuk pengembangan pengolahan sampah plastik menjadi biji plastik yang memiliki nilai ekonomi.
Penyerahan bantuan berlangsung di lingkungan Rektorat Unila, Selasa (2/6/2026). Program ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan perbankan daerah dalam menjawab tantangan lingkungan sekaligus mendukung dunia pendidikan.
Pelaksana Harian Rektor Unila, Prof. Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, mengatakan persoalan sampah tidak lagi dapat dipandang sebagai isu lingkungan semata, melainkan juga peluang untuk menciptakan nilai tambah melalui inovasi dan teknologi.
Menurutnya, Unila tengah mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga pemanfaatan kembali material yang masih memiliki potensi ekonomi.
“Sampah plastik yang selama ini menjadi masalah dapat diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat. Ini merupakan bagian dari upaya membangun budaya keberlanjutan di lingkungan kampus,” kata Suripto.
Ia menjelaskan, dukungan dari Bank Lampung akan memperkuat berbagai program lingkungan yang sedang dikembangkan kampus, sekaligus menjadi contoh bagaimana dunia usaha dapat berperan aktif dalam mendukung transformasi pendidikan.
Di sisi lain, Bank Lampung menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam melahirkan inovasi dan membangun kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan.
Sub-Branch Manager Bank Lampung Unit Teuku Umar, Mario Setiawan, mengatakan pihaknya ingin memastikan program CSR yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia pendidikan.
“Unila merupakan salah satu institusi pendidikan terbesar di Lampung yang memiliki peran penting dalam mencetak generasi masa depan. Karena itu kami mendukung program-program yang berdampak positif, termasuk pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui sinergi tersebut, Unila tidak hanya didorong menjadi pusat pendidikan dan riset, tetapi juga diharapkan menjadi model kampus yang mampu mengelola sampah secara produktif dan menciptakan manfaat ekonomi dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai. (**)











