Perguruan Tinggi

Unila Angkat Isu Krisis Penyerbuk Alami di Tengah Tuntutan Sawit Hijau

×

Unila Angkat Isu Krisis Penyerbuk Alami di Tengah Tuntutan Sawit Hijau

Sebarkan artikel ini

MATAMATA.ID – Tuntutan pasar global terhadap praktik perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan terus meningkat. Di tengah tekanan tersebut, keberadaan lebah sebagai penyerbuk alami dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas sekaligus keberlanjutan ekosistem.

Isu ini menjadi fokus utama dalam Seminar Nasional World Bee Day 2026 yang diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) di Hotel Harison, Bandar Lampung, pada 18–20 Juni 2026.

Mengusung tema “Lebah untuk Sawit Berkelanjutan: Konservasi, Keanekaragaman, dan Peningkatan Produktivitas”, forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku industri untuk membahas strategi menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi dan pelestarian lingkungan.

Rektor Unila, Prof. Lusmeilia Afriani, mengatakan lebah memiliki peran strategis dalam mendukung sistem pertanian dan perkebunan yang berkelanjutan.

Menurutnya, upaya meningkatkan produktivitas sektor sawit tidak dapat hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem.

“Konservasi sumber daya alam dan peningkatan produktivitas perkebunan harus berjalan beriringan agar manfaat ekonomi dapat tercapai tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan,” ujarnya, Kamis, 18 Juni 2026.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Pemerintah Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansyah, yang mewakili Gubernur Lampung, menegaskan bahwa lebah tidak hanya menghasilkan komoditas bernilai ekonomi seperti madu, tetapi juga berperan penting dalam proses penyerbukan tanaman pangan dan perkebunan.

Ia menyebut Lampung memiliki potensi besar dalam mengembangkan model pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan upaya konservasi.

Salah satunya melalui pengelolaan kawasan penyangga hutan seperti Taman Nasional Way Kambas yang menjadi habitat alami lebah sekaligus sumber penghidupan masyarakat melalui produksi madu.

Seminar ini diikuti 239 peserta dari berbagai perguruan tinggi, lembaga penelitian, instansi pemerintah, dan perusahaan swasta, termasuk IPB University, Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, BRIN, PTPN, dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Melalui forum ini, para pemangku kepentingan diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat konservasi lebah sekaligus mendorong transformasi industri sawit menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu lingkungan, keberhasilan menjaga populasi lebah dinilai akan menjadi salah satu indikator penting dalam mewujudkan masa depan industri sawit Indonesia yang lebih hijau dan berdaya saing. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *