MATAMATA.ID – Kesenjangan antara pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha menjadi perhatian dalam sidang promosi doktor di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila), Jumat, 26 Juni 2026.
Melalui disertasinya berjudul Model Pentahelix Edupreneurship di Perguruan Tinggi, Widya Hestiningtyas menawarkan pendekatan baru yang mengintegrasikan dunia kampus dengan pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan media untuk membentuk lulusan yang lebih siap menghadapi dunia kerja maupun menciptakan usaha sendiri.
Dalam ujian terbuka yang digelar di Aula K FKIP Unila tersebut, Widya menjelaskan bahwa pembelajaran kewirausahaan selama ini masih berfokus pada penguasaan teori. Padahal, dunia industri membutuhkan lulusan yang memiliki pengalaman praktik, kemampuan berkolaborasi, dan keterampilan menyelesaikan persoalan nyata.
“Mahasiswa perlu belajar langsung dari ekosistem kewirausahaan sehingga mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata,” ujarnya.
Penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan mengombinasikan model Dick and Carey serta Borg and Gall. Uji implementasi dilakukan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Lampung dan Program Studi Biologi UIN Raden Intan Lampung.
Hasil penelitian menunjukkan model Pentahelix Edupreneurship mampu meningkatkan keterampilan berwirausaha mahasiswa secara signifikan. Selain meningkatkan hasil belajar, model tersebut dinilai efektif membangun kreativitas, kemampuan bekerja sama, komunikasi, serta pengambilan keputusan dalam menghadapi tantangan bisnis.
Model yang dikembangkan juga telah melalui proses validasi dan dinyatakan layak diterapkan sebagai alternatif pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi.
Sidang promosi dipimpin Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unila, Prof. Dr. Sunyono, M.Si. Ia menilai hasil penelitian tersebut memiliki nilai strategis karena menawarkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan tinggi saat ini.
Menurutnya, perguruan tinggi dituntut menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
Selain menghadirkan model pembelajaran baru, penelitian tersebut juga memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori pendidikan melalui integrasi social constructivism, connectivism, dan experiential learning dalam pembelajaran kewirausahaan.
Melalui inovasi ini, FKIP Unila berharap pembelajaran kewirausahaan tidak lagi sekadar menjadi mata kuliah pelengkap, tetapi menjadi sarana membangun generasi yang kreatif, mandiri, dan mampu menciptakan peluang ekonomi di tengah perubahan zaman. (*)












